Kamis, 20 Maret 2025

 PENILAIAN POTENSI WISATA ALAM BUMI PERKEMAHAN IPUKAN KABUPATEN KUNINGAN

 

Nama : Muhammad Nur Alfin

Nim : 247055004

Tugas Penilaian Ekosistem Hutan

Judul penelitian    : Penilaian Potensi Wisata Alam Bumi Perkemahan Ipukan Kabupaten Kuningan 

Nama penulis        : ROBBI TRI NUGRAHA 

Nama jurnal         FTSP Series : Seminar Nasional dan Diseminasi Tugas Akhir 2021 



1. PENDAHULUAN

Pariwisata adalah salah satu industri terbesar dan perkembangannya yang konsisten dari tahun ke tahun, hal ini dikarenakan terdapat salah satu penunjang yaitu globalisasi, sehingga pertumbuhan industri pariwisata menjadi salah satu sektor penghubung antar bidang, antar negara hingga antar individu. Menurut Yoeti (dalam Isa Wahyudi, 2017) pariwisata memiliki tiga syarat agar dapat dijadikan perjalanan beriwisata jika: (1) kegiatan perjalanan yang dilakukan dari suatu tempat ke tempat yang lainnya (2) tujuan suatu perjalanan apabila dilakukan untuk rekreasi dan bukan sebagai dijadikan tempat untuk mendapatkan keuntungan (3) sebagai bentuk pengunjung atau konsumen di tempat yang dikunjungi. Dapat disimpulkan bahwa pariwisata dari sudut pandang pengunjung adalah tempat untuk berekreasi, melepas penat dan sebagai tempat hiburan untuk individu atau kelompok dengan syarat tidak dijadikan tempat untuk mencari keuntungan. Undangundang No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan telah mendifinisikan bahwa pariwisata adalah kegiatan rekreasi yang didukung oleh sarana infrastruktur pemeliharaan dan pelayanannya yang disediakan oleh pelaku pariwisata baik itu masyarakat, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan yang terlibat di dalamnya.

Agar  terjaganya  potensi  dari  suatu  destinasi,  baik  itu  dari  sisi  daya  tarik,  aksesbilitas,  fasilitas, pengelola, pengunjung, ekonomi lokal maupun menjaga potensi alam dari destinasi pariwisata itu sendiri perlu adanya konsep pengembangan yang dapat diterapkan terhadap destinasi wisata itu sendiri, salah satunya yaitu ekowisata. Dalam penerapan konsep ekowisata, perlu adanya langkah awal  untuk  mengetahui  potensi  kondisi dan eksisting  suatu  kawan  dengan  mengidentifikasi potensiObyek  Daya  Tarik  Wisata  Alam  (ODTWA). Kosmaryandi  dan  Avenzora  (dalam  Siam Romani, 2006) berpendapat bahwa pengembangan potensi ODTWA dalam kegiatan wisata alam sebisa   mungkin   harus   dikelola   secara   bijak   dan   bertanggung   jawab   serta   benar-benar memperhatikan  kelestarian  yang  bersifat  konservatif. 

Kabupaten Kuningan yang terkenal akan berbagai destinasi wisatanya baik itu wisata alam, wisata budaya  dan  sejarah.  Terdapat  berbagai  macam  wisata  alam  dataran  tinggi  yang  berlokasi  di kawasan  Taman  Nasional  Gunung  Ciremai  (TNGC)  Kab.  Kuningan,    Salah  satunya  yaitu  Bumi Perkemahan Ipukan yang berlokasi di Dusun Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur. Buper Ipukan memiliki berbagai daya tarik wisata yang cukup lengkap seperti terdapatnya dua air terjun yang dinamakan “Curug Cisurian” dan “Curug Cipayung”, perkemahan dan potensi sumber daya alam unggulan diantaranya yaitu berbagai macam spesies tumbuhan yang memberi kesan sejuk, dan berbagai jenis hewan liar hutan tropis.Dalam upaya mendukung pengembangannya, Buper Ipukanharus mempunyai pengelolaan berdasarkan keterkaitan dari aspek dasar pariwisata. Buper  Ipukan  belum  sepenuhnya  merencanakan  konsep  pengembangan  ekowisata  di  mana upaya-upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut masih belum optimal. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya pemanfaatan potensi obyek daya tarik wisata alam yang  belum  optimal,  masih menetapkannya kebijakan masstourism dimana  tidak  ada  limitasi terhadap  pengunjung  terutama  pada  hari  raya  serta  belum  terdapatnya  edukasi  kepada pengunjung yang bertujuan menjaga kekayaan alam yang ada di sekitar Buper Ipukan. Sehingga perlu dilakukan evaluasi atau penilaian terhadap potensi obyek wisata alamnya untuk mengetahui  sejauh  mana  pengembangannya.  Selain  hal  tersebut, penilaian  obyek  wisata  alam juga  bertujuan  untuk  mengetahui  kekurangan  dari  obyek  wisata  dan  mengkaji  lebih  banyak potensi  obyek  wisata  alamnya  yang  dapat  diterapkan  untuk  pengembangan  di  Buper  Ipukan. Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu dilakukan analisis penilaian wisata pada Wisata Alam Buper Ipukan. Data hasil nilai kelayakan tersebut diperlukan sebagai upaya dasar pengembangan kawasan Wisata Alam Buper Ipukan.Terkait dengan permasalahan yang berkaitan dengan kondisi dan potensi wisata alam Bumi Perkemahan Ipukanyang telah dipaparkan, kemudian dapat ditarik pertanyaan penelitian yang perlu dipecahkan dalam penelitian ini yaitu, “Apa saja potensi wisata alam yang layak sebagai acuan pengembangan wisata alam di Bumi Perkemahan Ipukan?”.

2. METODE PENELITIAN

2.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Jenis penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang memiliki tujuan untuk menggambarkan secara lengkap mengenai peristiwa faktual. Menurut Sukmadinata (2006) penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan peristiwa atau fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena tersebut bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya. Punaji (2010) Penelitian  deskriptif  adalah  metode  riset  yang memiliki tujuan untuk menjelaskan secara spesifik peristiwa sosial dan alam.

2.2 Metode pengumpulan data

Metode  pengumpulan  data  dalam  penelitian  ini  menggunakan  Survey  primeryang dilakukan dengan observasi dan wawancara kuesioner. Observasi berupa pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati secara langsung potensi  yang  terdapat pada lokasi studi potensi tersebut berupa daya tarik wisata, aksesibilitas, akomodasi, fasilitas penunjang dan ketersediaan air bersih di Bumi Perkemahan Ipukan. Sedangkan, untuk wawancara kuesioner berupa bentuk pertanyaan-pertanyaan tertulis terkait variabel - variabel penelitianyang ditujukan kepada responden terkait. Metode  pengambilan sampel yang akan digunakan untukkeperluan jumlah responden dalam penelitian adalah purposive sampling, dimana pengambilan sampel ditentukan dengan menggunakan kriteria masyarakat yang pernah mengunjungi kawasan Bumi Perkemahan Ipukandengan umur lebih dari 18 tahun dan telah memahami literasi tentang pariwisata alam.

2.4 Metode analisis

Metode   analisis   dilakukan   setelah   data   terkumpul,   di   mana   kegiatannya   terdiri   atas mengelompokkan  data  berdasarkan  variabel,  menilai  setiap  variabel  yang  telah  teridentifikasi, menyajikan  data,  dan  melakukan  pertimbangan  berdasarkan  data  tersaji.Identifikasi  data mengenai  potensi  sumber  daya  alam  dan  lingkungan  diolah  dengan  menggunakan  Pedoman Analisis Daerah Operasi Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) Direktorat Jenderal PHKA (2003) yang telah dimodifikasi sesuai dengan nilai/skor yang telah ditentukan untuk masing-masing kriteria (Romani, 2006). Jumlah nilai untuk satu kriteria penilaian ODTWA dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

 

Masing-masing kriteria tersebut dalam penilaiannya terdiri atas unsur dan sub unsur yang berkaitan. Nilai masing-masing unsur dipilih dari salah satu angka yang terdapat pada tabel kriteria penilaian ODTWA sesuai dengan potensi dan kondisi masing-masing lokasi. Daya tarik merupakan modal utama yang memungkinkan datangnya pengunjung  untuk  itu  bobot  kriteria daya tarik diberi angka tertinggi yaitu 6. Penilaian aksesibilitas diberi bobot 5 karena aksesibilitas merupakan faktor yang sangat penting dalam mendukung potensi pasar. Kondisi lingkungan social ekonomi dinilai dalam radius 5 km dari batas intensive use atau jarak terdekat dengan obyek. Kriteria penilaian kondisi lingkungan sosial ekonomi diberi bobot 5 karena kriteria ini juga sangat penting dalam mendukung potensi pasar. Penilaian kriteria akomodasi diberi bobot 3. Penilaian kriteria sarana-prasarana penunjang diberi bobot 3, karena sifatnya sebagai penunjang. Air bersih merupakan faktor yang harus tersedia dalam pengembangan suatu obyek baik untuk pengelolaan maupun pelayanan. Bobot yang diberikan untuk kriteria ketersediaan air bersih adalah 6. Hasil penilaian seluruh kriteria obyek dan daya tarik wisata alam tersebut digunakan untuk melihat dan menentukan elemen prioritas yang dapat mendukung penerapan konsep pengembangan wisata alamdi Buper Ipukan. Hasil penilaian terhadap unsur dan sub unsur tiap-tiap kriteria ODTWA di kawasan Buper Ipukan kemudian diklasifikasikan tingkat  kelayakannya  untuk  pengembangan  ekowisatamenjadi  3 klasifikasi.

3. PENILAIAN POTENSI WISATA ALAM BUPER IPUKAN

Daya Tarik merupakan unsur utama yang membuat orang berkeinginan untuk mengunjungi dan menikmati  secara  langsung  ke  destinasi  wisata yang  dituju. Pengkajian  unsur-unsur  daya  tarik bertujuan  untuk  mengetahui  bentuk  kegiatan  yang  sesuai  dengan  daya  tariknya.  Unsur - unsur yang  dikaji  dalam  kriteria  daya  tarik  yaitu  keunikan,  kepekaan,  variasi  kegiatan,  macam  jenis sumberdaya alam, kebersihan destinasi, keamanan dan kenyaman. Hasil penilaian terhadap daya tarik yang dimiliki Buper Ipukan menunjukan bahwa potensi yang ada layak untuk dikembangkan. unsur  yang  memiliki  nilai  tertinggi  adalah  Variasi  kegiatan,  kebersihan  lokasi,  keamanan  dan kenyaman  dengan  masing-masing  nilai  30.  Sedangkan  pada  unsur  Keunikan,  kepekaan  dan macam jenis sumberdaya alam memiliki nilai 20 yang artinya memiliki nilai lebih rendah dari unsur-unsur yang lainnya. Aksesibilitas merupakan salah satu unsur penting yang dapat mengetahui mudah tidaknya tujuan untuk  dijangkau  serta  merupakan  syarat  yang  sangat  diperlukan  untuk  sebuah  obyek  wisata. Tanpa  dihubungkan  dengan  dengan  jaringan  jalan,  obyek  tersebut  mendapatkan  dampak  dari kedatangan pengunjung. Akses menuju Buper Ipukan dapat dicapai melalui jalan darat dengan kondisi yang cukup baik, karena kondisi jalan kabupaten dengan perkerasan aspal dan lebar lebih dari 3 - meter memberikan kemudahan terhadap wisatawan yang ingin mengunjungi Buper Ipukan. Jarak  Buper  Ipukan  dari  ibukota  kabupaten  yaitu  10  km  yang  dapat  ditempuh  oleh  kendaraan roda  dua/empat  selama  20  menit  sedangkan  dari  ibu kota provinsi  (Bandung)  berjarak  246  km dengan waktu tempuh sekitar 4 jam.

Akomodasi merupakan salah satu faktor yang diperlukan dalam kegiatan wisata untuk membantu pengunjung ketika ingin menginap di kawasan obyek wisata. Faktor akomodasi menjadi sangat penting dan menjadi bahan pertimbangan bagi para pengunjung non-domestik ataupun luar kota.skor total yang diperoleh sebesar 180 dengan rincian jumlah penginapan lebih dari 10-unit dan lebih dari 100 kamar. Hal ini dikarenakan dari radius 15km dari Buper Ipukan terdapat banyak penginapan berupa wisma, villa maupun hotel karena jarak Buper Ipukan dari pusat kota cukup dekat  dengan  jarak  10km.  Selain  itu,  Buper  Ipukan  juga  menyediakan  areal  camping  untuk pemasangan tenda serta starcampatau kegiatan kemah yang tendanya sudah disediakan secara permanen.

Berikut  ini  ialah  kesimpulan  hasil  analisis penilaian potensi  dan  kondisi  wisata  alam  Bumi Perkemahan Ipukan kriteria daya tarik, aksesibilitas dan akomodasi:

 

 


 

4. KESIMPULAN

Hasil analisis penelitian berdasarkan penilaian obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) kawasan wisata alam Bumi Perkemahan Ipukan Kabupaten Kuningan memperoleh nilai indeks kelayakan sebesar 89,40% yang dapat disimpulkan bahwa Buper Ipukan memiliki kondisi yang layak untuk dikembangkan lebih lanjut, dengan rinciandaya tarik wisata alam mendapatkan skor 1080 dengan indeks  85,71%  yang  artinya  kriteria  daya  tarik  (attraction)  memiliki  kondisi  layak  untuk dikembangkan. Potensi yang disajikan berupa keanekaragaman flora dan fauna yang salah satu unggulannya  adalah  katak  merah  dan  lutung.  Selain  flora  fauna,  keindahan  alam  serta  variasi kegiatan  menjadi  potensi  unggulan  Buper  Ipukan. Pada  kriteria  aksesibilitas  Buper  Ipukan mendapatkan skor 1100 dengan indeks 84,62% yang artinya kriteria aksesibilitas (accessibility) memiliki kondisi yang layak sebagai salah satu faktor pendukung adanya perjalanan menuju obyek wisata alam.  Namun, pada persepsi pengunjung terdapat beberapa harapan yang mengharapkan jalan menuju Buper Ipukan diperbaiki karena terdapat kondisi jalan dari pos tiket menuju area parkir buruk. Namun, hal ini tidak menjadi salah satu masalah besar karena bagian jalan tersebut termasuk dalam kawasan TNGC, dimana pengelola harus bisa minimalisirjenis perkerasan beton maupun  semendan  pada  kriteria  amenitas  (amenities)  Buper  Ipukan  mendapatkan  masing-masing  skor  akomodasi  sebesar  180  dengan  indeks  100%,  sarana  dan  prasarana  penunjang sebesar 240 dengan indeks 80% dan ketersediaan air bersih sebesar 870 dengan indeks 96,67% yang artinya kriteria amenitas memiliki kondisi yang layak.

TINJAUAN KRITIS

1. Tujuan dan Relevansi Penelitian

  • Pertanyaan Penting: Apakah tujuan penelitian dijelaskan dengan jelas dan sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh Bumi Perkemahan Ipukan? Penelitian ini seharusnya bertujuan untuk mengeksplorasi potensi wisata alam di lokasi tersebut untuk pengembangan yang lebih baik.
  • Relevansi: Penelitian ini akan relevan jika berkaitan dengan kebijakan pengembangan pariwisata di Kabupaten Kuningan, serta bagaimana potensi alam dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi lokal dan pelestarian alam.

2. Metodologi Penelitian

  • Pertanyaan Penting: Apakah metodologi yang digunakan tepat dan dapat diandalkan? Misalnya, apakah data yang dikumpulkan objektif dan mencakup aspek yang beragam dalam penilaian potensi wisata alam, seperti aspek alam, sosial, budaya, dan ekonomi?
  • Keterbatasan Metodologi: Jika menggunakan pendekatan kualitatif, apakah wawancara atau observasi dilakukan dengan cara yang representatif? Jika menggunakan pendekatan kuantitatif, apakah instrumen yang digunakan valid dan reliabel?

3. Analisis dan Hasil Penelitian

  • Kualitas Analisis: Apakah hasil yang diperoleh memberikan gambaran yang jelas mengenai potensi wisata di Bumi Perkemahan Ipukan? Apakah analisis didukung oleh data yang kuat dan mendalam?
  • Keterbatasan Hasil: Ada kemungkinan faktor-faktor eksternal yang tidak dianalisis dalam penelitian ini, seperti perubahan iklim, pembangunan infrastruktur, atau faktor sosial yang bisa mempengaruhi keberlanjutan wisata alam.

4. Kontribusi terhadap Pengembangan Pariwisata Lokal

  • Pengembangan: Apakah penelitian ini memberikan rekomendasi yang berguna untuk pengelolaan dan pengembangan wisata? Contohnya, apakah ada saran tentang promosi, pengelolaan sumber daya alam, atau pemberdayaan masyarakat lokal?
  • Keberlanjutan: Apakah penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pengelolaan wisata alam yang berkelanjutan? Misalnya, bagaimana menjaga keseimbangan antara pengembangan dan pelestarian alam?

5. Keterbatasan dan Saran untuk Penelitian Selanjutnya

  • Keterbatasan: Setiap penelitian pasti memiliki keterbatasan. Penelitian ini perlu mengidentifikasi apakah ada aspek penting yang terlewat atau apakah metodologi yang digunakan memiliki kekurangan.
  • Saran Penelitian Lanjutan: Apakah penelitian ini memberikan arah untuk riset selanjutnya? Misalnya, apakah ada kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut tentang dampak wisata terhadap lingkungan atau keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata?

6. Konsistensi dengan Literatur Terkait

  • Perbandingan dengan Literatur: Apakah jurnal ini membandingkan temuan-temuannya dengan penelitian lain yang relevan tentang wisata alam di daerah lain atau di Kabupaten Kuningan? Perbandingan dengan penelitian sebelumnya bisa memperdalam analisis.

7. Aspek Sosial dan Ekonomi

  • Pemberdayaan Masyarakat: Apakah penelitian ini mencakup aspek sosial seperti pemberdayaan masyarakat, peningkatan ekonomi, dan kesadaran akan pentingnya pelestarian alam?
  • Dampak Ekonomi: Apakah penelitian ini menganalisis dampak pengembangan wisata terhadap perekonomian lokal, seperti pendapatan, lapangan kerja, dan infrastruktur?

Kesimpulan Tinjauan Kritis:

Secara keseluruhan, jurnal ini memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada pengembangan pariwisata alam di Kabupaten Kuningan, khususnya di Bumi Perkemahan Ipukan. Namun, agar penelitian ini lebih berkualitas dan berdampak, metodologi yang digunakan harus lebih komprehensif dan analisisnya lebih mendalam terkait dampak sosial-ekonomi dan lingkungan. Rekomendasi yang diberikan juga perlu lebih berfokus pada keberlanjutan dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan wisata.

 

 

 

 

 

Selasa, 15 Oktober 2019

Paper Penilaian Hutan                                                         Medan,   Oktober 2019

KARAKTERISTIK DARI POTENSI HASIL SUMBERDAYA HUTAN POHON PALA (Myristica fragrans Houtt)
 
Dosen Pembimbing :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
  Disusun Oleh :
    Muhammad Nur Alfin     171201199
  BDH 5





PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019


KATA PENGANTAR

              Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper yang berjudul “Karakteristik Dari Potensi Hasil Hutan Pohon Pala (Myristica Fragrans Houtt) ” ini dengan baik. Paper Penilaian Hutan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Penilaian Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
              Dalam penyelesaian laporan ini, penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M. Si., selaku dosen pembimbing mata kuliah Penilaian Hutan, yang telah mengajarkan materi perkuliahan dengan baik dan yang hasilnya kemudian dipaparkan dalam paper ini. 

             Penulis sadar bahwa penulisan paper ini masih memiliki kesalahan- kesalahan, baik itu dalam segi teknik maupun dalam bahasa. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi menyempurnakan paper mata kuliah Penilaian Hutan ini. Akhir kata, penulis berharap semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.



                           Medan,    Oktober 2019


                                                                                                               Penulis





BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Hutan tropis di Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi, yang berpotensi tinggi untuk untuk dimanfaatkan. Hutan mempunyai berbagai jenis manfaat yang dapat diusahakan dan dinikmati oleh masyarakat baik yang berwujud nyata (tangible benefits) maupun yang tak berwujud nyata (intangible benefits). Sampai saat ini sumberdaya hutan yang berwujud nyata masih didominasi oleh pemanfaatan berupa kayu melalui paradigma timber ekstraktif. Hasil hutan berupa kayu selama 30 tahun merupakan salah satu sumber devisa yang penting bagi pembangunan negara. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan berupa manfaat langsung berupa kayu dan hasil hutan bukankayu maupun manfaat tidak langsung berupa kelestarian lingkungan, pengaturan tata air (hidrologi), kawasan tempat rekreasi, habitat fauna, pendidikan dan ilmu pengetahuan. Fungsi ekologi, ekonomi, sosial dari hutan akan terlihat nyata apabila pengelolaan sumber daya alam dimanfaatkan secara bertanggung jawab sehingga terwujudnya hutanyang lestari. Berdasarkan struktur vegetasi dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan yang meliputi semai, pancang, tiang dan pohon 
Hasil Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki nilai ekonomi, ekologi dan sosial yang tinggi. Hutan alam tropika juga berfungsi sebagai paru-paru dunia dan sistem penyanggah kehidupan sehingga kelestariannya harus dijaga dan dipertahankan dengan pembangunan hutan yang tepat. Hutan adalah suatu kesatuan ekosisitem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (Undang-Undang Kehutanan No. 41 tahun 1999). Lebih lanjut diuraikan bahwa hutan mempunyai tiga fungsi yaitu: fungsi konservasi yaitu hutan konservasi, fungsi lindung yaitu hutan lindung, dan fungsi produksi yaitu hutan produksi     

     Hasil Hutan Bukan Kayu mencakup semua keanekaragaman biologi selain kayu yang digali dari hutan untuk keperluan manusia. Hasil-hasil hutan ini termasuk makanan, obat-obatan, bumbu-bumbu, damar, karet, tanaman hias, hewan dan produk-produk yang dihasilkan oleh hewan (misalnya sarang burung walet, madu, dan lainnya), rotan, bambu dan serat-serat (mis: pandan yang dapat dianyam menjadi tikar).  Food and Agricultural Organization (FAO) mendefinisikan HHBK sebagai produk selain kayu yang berasal dari bahan biologis, diperoleh dari hutan dan pepohonan yang tumbuh di sekitar hutan.  Semua HHBK mempunyai karakteristik yang sama yaitu digali oleh masyarakat di dalam dan sekitar hutan dengan menggunakan teknologi yang sederhana. Secara ekologis HHBK tidak memiliki perbedaan fungsi dengan hasil hutan kayu, karena sebagian besar HHBK merupakan bagian dari pohon. Menurut UU Kehutanan Nomor 41 tahun 1999, disebutkan bahwa HHBK adalah hasil hutan hayati maupun non hayati. Hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan salah satu hasil hutan selain kayu dan jasa lingkungan. Menurut Peraturan Menteri Kehutanan No. 35 tahun 2007, HHBK adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidayanya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Beragam manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan dapat diperoleh dari keberadaan HHBK ini. Sementara ini ada 558 komoditas HHBK yang menjadi urusan Departemen Kehutanan.



1.2  Rumusan Masalah
   1. Apa itu Pohon Pala ?
   2. Apa saja manfaat pohon pala ?
   3. Apa saja khasiat dari buah pala ?
   4..Apakah manfaat ekonomi dari buah pala ?





BAB II

ISI

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Pohon Pala

         Pohon pala adalah tumbuhan yang berupa pohon yang berasal dari daerah tropis, yang memiliki 2000 spesies dan menyebar keseluruh daerah tropis. Tanaman pala ini memiiki mahkota merindang, dengan batang menpai ketinggia 10-18 m. Mahkota tanaman ini meruncing keatas, daun berwarna hijau mengkilat dengan panjang 5-15 cm, lebar 3-7 cm dengan panjang tangkai daun 0,7 -1,5 cm .
Klasifikasi dan morfologi tanaman pala ini adalah sebagai berikut :
Kingdom       : Plantae ( Tumbuhan )
Subkingdom : Taracheobionta ( Tumbuhan berpembulu )
Super divisi   : Spermatophyta ( Menghasilkan biji )
Divisi             : Magnoliophyta ( Tumbuhan berbunga )
Kelas             : Magnoliopsida ( berkeping dua / dikotil )
Sub kelas      : Magnoliidae
Ordo              : Magnoliales
Famili             : Myristicaceae
Genus            : Myristica
Spesies         : Myristica fragrans Houtt
         Pohon pala memiliki buah berbentuk bulat, berwarna kekuning – kuningan apabila matang atau masak akan menjadi dua bagian. Garis tengah buah ini berskisar antara 3-9 cm, daging buah tebal dan memiliki rasa asam. Biji berbentuk lonjong hingga bulat dengan panjang berkisar antara 1,5 – 4,5 cm, lebar 1-2,5 cm. Kulit biji berwarna coklata dan mengkilat pada bagian luar. Kemel biji berwarna keputih – putihan, sedangkan fulinya berwarna merah gelap hingga berwarna putih kekuning – kuningan dan biji dibungkus yang hampir menyerupai jala
2.2 Manfaat Pohon Pala
      Selain sebagai rempah-rempah, pala juga berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak digunakan dalam industri pengalengan, minuman dan kosmetik.


1) Kulit batang dan daun

Batang/kayu pohon pala yang disebut dengan “kino” hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Kulit batang dan daun tanaman pala menghasilkan minyak atsiri.

2) Fuli

Fuli adalah benda untuk menyelimuti biji buah pala yang berbentuk seperti anyaman pala, disebut “bunga pala”. Bunga pala ini dalam bentuk kering banyak dijual didalam negeri.
3) Biji pala
Biji pala tidak pernah dimanfaatkan oleh orang-orang pribumi sebagai rempahrempah. Buah pala sesungguhnya dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa nyeri yang disebabkan oleh kedinginan dan masuk angin dalam lambung dan usus. Biji pala sangat baik untuk obat pencernaan yang terganggu, obat muntahmuntah dan lain-lainya.
4) Daging buah pala
Daging buah pala sangat baik dan sangat digemari oleh masyarakat jika telah diproses menjadi makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala, marmelade, selai pala, kKristal daging buah pala.


2.3 Khasiat Buah Pala
      Khasiat dari pala diantaranya adalah :
1.    Pereda sakit perut
Buah pala ternyata sejak zaman dulu dikenal sebagai obat alami untuk mengatasi gangguan pencernaan, diare, dan kembung. Minyak esensial dan zat kimiawi alami lainnya yang ada di dalam buah ini membantu kelancaran saluran pencernaan. Untuk membantu masalah pencernaan, taburkan sedikit, tak lebih dari setengah sendok teh dalam semangkuk oatmeal sarapan setiap hari selama 2 minggu.
2.    Membantu tidur
Jika Anda memiliki masalah untuk tidur, tuangkan segelas susu hangat dan sedikit pala bubuk. Susu mengandung tryptophan, asam amino yang berubah menjadi serotonin dalam tubuh, sementara buah pala membantu serotonin bertahan lebih lama
3.    Pereda sakit gigi
Bagi yang pernah merasakan sakit gigi, pasti pernah merasakan obat yang dioleskan dokter pada gigi. Rasanya pedas seperti pala. Ya, karena buah pala memang sudah sejak lama digunakan untuk meredakan sakit gigi dan gusi meradang. Tambahannya, zat dalam minyak pala membantu memerangi bakteri dalam mulut yang bisa menyebabkan gigi berlubang.


2.4  Manfaat ekonomi dari buah Pala

      Pala dikenal sebagai tanaman rempah yang memiliki nilai ekonomis dan multiguna karena setiap bagian tanaman dapat dimanfaatkan dalam berbagai industri. Biji, fuli dan minyak pala merupakan komoditas ekspor dan digunakan dalam industri makanan dan minuman. Minyak yang berasal dari biji, fuli dan daun banyak digunakan untuk industri obat-obatan, parfum dan kosmetik. Buah pala berbentuk bulat berkulit kuning jika sudah tua, berdaging putih. Bijinya berkulit tipis agak keras berwarna hitam kecokelatan yang dibungkus fuli  berwarna merah padam.Buah pala terdiri atas daging buah (77,8%), fuli (4%), tempurung (5,1%) dan biji (13,1%). Secara komersial biji pala dan fuli (mace) merupakan bagian terpenting dari  buah pala dan dapat dibuat menjadi berbagai produk antara lain minyak atsiri dan oleoresin.



BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
 Pohon pala adalah tumbuhan yang berupa pohon yang berasal dari daerah tropis, yang memiliki 2000 spesies dan menyebar keseluruh daerah tropis. Tanaman pala ini memiiki mahkota merindang, dengan batang menpai ketinggia 10-18 m. Mahkota tanaman ini meruncing keatas, daun berwarna hijau mengkilat dengan panjang 5-15 cm, lebar 3-7 cm dengan panjang tangkai daun 0,7 -1,5 cm
Buah pala mengandung zat-zat : minyak terbang (myristin, pinen, kamfen (zat membius), dipenten, pinen safrol, eugenol, iso-eugenol, alkohol), gliseda (asam-miristinat, asam-oleat, borneol, giraniol), protein, lemak, pati gula, vitamin A, B1 dan C. Minyak tetap mengandung trimyristin.
Biji pala dikenal sebagai Myristicae Semen yang mengandung biji Myristica Fragrans dengan lapisan kapur, setelah fulinya disingkirkan. Bijinya mengandung minyak terbang, dan memiliki wangi dan rasa aromatis yang agak pahit. Sebanyak 8 – 17% minyak terbang yang ditawarkan merupakan bahan yang terpenting pada fuli



DAFTAR PUSTAKA
Alam S dan Hajawa. 2007. Peranan Sumberdaya Hutan Dalam Perekonomian dan Dampak Pemungutan Rente Hutan Terhadap Kelestarian Hutan di Kabupaten Gowa. Jurnal Perennial, 3: 59-66

Bustaman, S. 2008. Prospek Pengembangan Minyak Pala Banda Sebagai Komoditas Ekspor Maluku. Jurnal Litbang Pertanian, 27(3): 93 – 98.

Departemen Kehutanan (DEPHUT). 2007. Peraturan Menteri Kehutanan No. 35 Tahun 2007 tentang Hasil Hutan Bukan Kayu.

Schmidt, L. 2002. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis (terjemahkan) Dr. Mohammad Na’iem dkk. Bandung.

Sipahelut, Sophia & Telussa, Ivonne. (2011). Karakteristik Minyak Atsiri Dari Daging Buah Pala Melalui Beberapa Teknologi Proses. Jurnal Teknologi Hasil Pertanian. 4(2): 134

Sudjarmoko, B. 2010.  Kelayakan Pengusahaan Pala di Jawa Barat. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri- Buletin RISTRI. 1(5). 217-226.