PEMANFAATAN EKONOMI DARI POHON GAHARU (Aquilaria Sp)
Dosen Pembimbing :
Disusun Oleh :
Muhammad Nur Alfin 171201199
HUT 4 C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
( sumber : google.com )
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Gaharu merupakan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dalam bentuk
gumpalan, serpihan atau bubuk yang memiliki aroma keharuman khas yang bersumber
dari kandungan bahan kimia berupa resin (α-β oleoresin). Gaharu terbentuk dalam
jaringan kayu, akibat pohon terinfeksi penyakit cendawan (fungi) yang masuk
melalui luka batang (patah cabang). Komoditas gaharu telah cukup lama dikenal
masyarakat secara umum. Beberapa jenis tanaman gaharu yang dikenal antara lain
(Aquilaria malaccensis Lamk) adalah salah satu jenis
tanaman hutan yang memiliki mutu sangat baik dengan nilai ekonomi tinggi karena
kayunya mengandung resin yang harum baunya. Gaharu berwarna coklat kehitaman
sampai hitam, berbau harum jika dibakar. Gaharu terdapat pada bagian kayu atau
akar dari jenis pohon penghasil gaharu yang telah mengalami proses perubahan
kimia dan fisika akibat terinfeksi oleh sejenis jamur.
Gaharu merupakan salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang memiliki kandungan damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi secara alami atau buatan pada pohon gaharu
1.2. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Gaharu ?
2. Bagaimana proses pembentukan Gaharu ?
3. Bagaimana proses pengolahan Gaharu ?
4. Apakah manfaat dari Gaharu ?
5. Bagaimana aspek ekonomi dari Gaharu ?
1.3. Tujuan
1.
Untuk mengetahui apa itu Gaharu
2.
Untuk mengetahui proses pembentukan gaharu
3.
Untuk mengetahui proses pengolahan Gaharu
4.
Untuk mengetahui manfaat dari Gaharu
5. Untuk mengetahui aspek ekonomi dari Gaharu
BAB II
ISI
ISI
2.1. Pengertian
Gaharu adalah, kayu berwarna kehitaman dan mengandung resin khas, serta memiliki
kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil
gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari proses
infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut, dan
pada umumnya terjadi pada spesies dari marga Aguilaria sp. terutama A.
malaccensis. (Nama daerah : Karas, Alim, Garu dan lain-lain).
Gaharu (A. malaccensis Lamk ) dapat ditemukan
di Bangladesh, Bhutan, India,Indonesia, Iran, Laos, Malaysia, Myanmar, Philipina, Singapore, dan Thailand. Gaharu hanya
diambil gubalnya yang mengeluarkan bau harum. Keharuman gubal gaharu terbentuk
oleh kayu yang mengalami pelapukan dan mengandung damar wangi (aromatic
resin) sebagai akibat serangan jamur. Dengan kata lain, gaharu atau gubal
gaharu merupakan substansi aromatik berupa gumpalan atau padatan berwarna
coklat muda sampai coklat kehitaman yang terbentuk pada lapisan dalam dari kayu
tersebut. Substansi aromatik yang terkandung dalam gubal gaharu ini termasuk
dalam golongansesquiterpena.
2.2. Proses Pembentukan
Gaharu dihasilkan tanaman sebagai
respon dari masuknya mikroba yang masuk ke dalam jaringan yang terluka. Luka pada
tanaman berkayu dapat disebabkan secara alami karena adanya cabang dahan yang
patah atau kulit terkelupas, maupun secara sengaja dengan pengeboran dan
penggergajian. Masuknya mikroba ke dalam jaringan tanamandianggap sebagai benda
asing sehingga sel tanaman akan menghasilkan suatu senyawa fitoaleksin yang
berfungsi sebagai pertahanan
terhadap penyakit atau patogen. Senyawa fitoaleksin tersebut dapat berupa
resin berwarna coklat dan beraroma harum, serta menumpuk pada pembuluh xilem
dan floem untuk mencegah meluasnya luka ke jaringan lain. Namun, apabila
mikroba yang menginfeksi tanaman dapat mengalahkan sistem pertahanan tanaman
maka gaharu tidak terbentuk dan bagian tanaman yang luka dapat membusuk.
Ciri-ciri bagian tanaman yang telah menghasilkan gaharu adalah kulit batang
menjadi lunak, tajuk tanaman menguning dan rontok, serta terjadi pembengkakan,
pelekukan, atau penebalan pada batang dan cabang tanaman. Senyawa gaharu dapat
menghasilkan aroma yang harum karena mengandung senyawa guia dienal, selina-dienone,
dan selina dienol. Untuk kepentingan komersil, masyarakat mengebor batang
tanaman penghasil gaharu dan memasukkan inokulum cendawan ke dalamnya. Setiap
spesies pohon penghasil gaharu memiliki mikroba spesifik untuk menginduksi
penghasilan gaharu dalam jumlah yang besar. Beberapa contoh cendawan yang dapat
digunakan sebagai inokulum adalah Acremonium
sp., Cylindrocarpon sp., Fusarium nivale, Fusarium solani, Fusarium
fusariodes, Fusarium roseum, Fusarium lateritium dan Chepalosporium sp.
2.3. Proses Pengolahan
Sebelum
dijadikan bahan baku parfum, gaharu harus diolah terlebih dahulu untuk
mendapatkan minyak dan senyawa aromatik yang terkandung di dalamnya. Sebagian
kayu gaharu dapat dijual ke ahli penyulingan minyak yang biasanya menggunakan
teknik distilasi uap atau air untuk mengekstraksi minyak dari kayu tersebut.
Untuk mendapatkan minyak gaharu dengan distilasi air, kayu gaharu direndam
dalam air kemudian dipindahkan ke dalam suatu tempat untuk menguapkan air
hingga minyak yang terkandung keluar ke permukaan wadah dan senyawa aromatik
yang menguap dapat dikumpulkan secara terpisah. Teknik distilasi uap
menggunakan potongan gaharu yang dimasukkan ke dalam peralatan distilasi uap.
Tenaga uap yang menyebabkan sel tanaman dapat terbuka dan minyak dan senyawa
aromatik untuk parfum dapat keluar. Uap air akan membawa senyawa aromatik
tersebut kemudian melalui tempat pendinginan yang membuatnya terkondensasi
kembali menjadi cairan. Cairan yang berisi campuran air dan minyak akan
dipisahkan hingga terbentuk lapisan minyak di bagian atas dan air di bawah.
Salah satu metode digunakan saat ini adalah ekstraksi dengan [[superkritikal
CO2]], yaitu CO2 cair yang terbentuk karena tekanan tinggi. CO2 cair berfungsi
sebagai pelarut aromatik yang digunakan untuk ekstraksi minyak gaharu. Metode ini menguntungkan karena tidak terdapat residu yang tersisa, CO2 dapat
dengan mudah diuapkan saat berbentuk gas pada suhu dan tekanan normal.
2.4. Manfaat
Gaharu
banyak diperdagangkan dengan harga jual yang sangat tinggi. Selain ditentukan
dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan oleh banyaknya
kandungan resin dalam
jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya maka harga gaharu
tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya.
Sampai saat ini, pemanfaatan gaharu masih dalam bentuk bahan baku (kayu
bulatan, cacahan, bubuk, atau fosil kayu yang sudah terkubur. Setiap bentuk
produk gaharu tersebut mempunyai bentuk dan sifat yang berbeda. Gaharu
mempunyai kandungan resin atau damar wangi yang mengeluarkan aroma dengan
keharuman yang khas. Dari aromanya itu yang sangat popular bahkan sangat
disukai oleh masyarakat negara-negara di Timur Tengah, Saudi Arabia, Uni
Emirat, Yaman, Oman, daratan Cina, Korea, dan Jepang sehingga dibutuhkan
sebagai bahan baku industri parfum, obat-obatan, kosmetika, dupa, dan pengawet
berbagai jenis asesoris serta untuk keperluan kegiatan keagamaan. Seiringnya
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi industri, gaharu bukan hanya
berguna sebagai bahan untuk industri wangi-wangian saja, tetapi juga secara klinis
dapat dimanfaatkan sebagai obat. Gaharu bisa dipakai sebagai obat: anti
asmatik, anti mikroba, stimulant kerja syaraf dan pencernaan ,obat sakit perut,
penghilang rasa sakit, kanker, diare, tersedak, tumor paru-paru, obat tumor
usus ,penghilang stress, gangguan ginjal, asma, hepatitis, dan untuk
kosmetik. Gaharu sebagai obat antara lain sebagai obat penawar
racun ular, kalajengking dan obat sakit gigi.
Namun
manfaat yang paling utama dari Tanaman Gaharu adalah Gubal Gaharu yang
mempunyai aroma wangi yang khas, manfaatnya antara lain :
- Aktifitas kebudayaan dalam agama Agama-agama di dunia (terutama Islam, Hindu, Budha, Nashrani, Konghucu,dll),
- Sebagai parfum, bau wangi yang khas secara alami sangat tahan lama,
- Aroma therapi herbal bagi kesegaran tubuh,
- Dalam bidang kosmitka (sabun, shampo, dll)
- Sebagai koleksi pribadi sebagi barang yang sangat bermutu dan bernilai tinggi.
- Kecuali manfaat-manfaat diatas tanaman Gaharu ini juga sangat bermanfaat bagi kesehatan kita, daunnya bisa di buat untuk teh atau jamu herbal jika di rebus.
- Meningkatkan fungsi seksual dan merawat masalah yang berkaitan
- Melegakan dan merawat sistem pernafasan – bagi penderita lelah, letih dan batuk dan kronik
- Merawat kanker tumor dan kanker paru-paru
- Melegakan insomnia (susah tidur) dan tidur yang kurang pulas
- Mengontrol kandungan gula dalam darah bagi penderita diabetes
- Merawat sistem limfa – sistem pertahanan badan
- Mengawal dan menstabilkan tekanan darah tinggi
- Mengurangi masalah sembelit, angin, cirit-birit dan IBS (perut sensitif)
- Merawat masalah Ginjal
- Tonik untuk menguatkan fungsi jantung
- Merawat penyakit hati
2.5. Aspek Ekonomi
Gaharu
banyak diperdagangan dengan harga jual yang sangat tinggi terutama untuk gaharu
dari tanaman famili Themeleaceae dengan jenis Aquilaria spp. yang dalam dunia
perdangangan disebut sebagai gaharu beringin. Untuk jenis gaharu dengan nilai
jual yang relatif rendah, biasanya disebut sebagai gaharu buaya. Selain
ditentukan dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan
oleh banyaknya kandungan resin dalam jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan
resin di dalamnya maka harga gaharu tersebut akan semakin mahal dan begitu pula
sebaliknya. Secara umum perdagangan gaharu digolongkan menjadi tiga kelas
besar, yaitu gubal, kemedangan, dan abu. Gubal merupakan kayu berwarna hitam
atau hitam kecoklatan dan diperoleh dari bagian pohon penghasil gaharu yang
memiliki kandungan damar wangi beraroma kuat. Kemedangan adalah kayu gaharu
dengan kandungan damar wangi dan aroma yang lemah serta memiliki penampakan
fisik berwarna kecoklatan sampai abu-abu, memiliki serat kasar, dan kayu lunak.
Kelas terakhir adalah abu gaharu yang merupakan serbuk kayu hasil pengerokan
atau sisa penghancuran kayu gaharu..
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Gaharu adalah, kayu berwarna kehitaman dan mengandung resin khas, serta memiliki
kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil
gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari proses
infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut
Gaharu dihasilkan tanaman sebagai
respon dari masuknya mikroba yang masuk ke dalam jaringan yang terluka. Luka pada
tanaman berkayu dapat disebabkan secara alami karena adanya cabang dahan yang
patah atau kulit terkelupas, maupun secara sengaja dengan pengeboran dan
penggergajian.
Gaharu harus diolah terlebih dahulu untuk
mendapatkan minyak dan senyawa aromatik yang terkandung di dalamnya. Sebagian
kayu gaharu dapat dijual ke ahli penyulingan minyak yang biasanya menggunakan
teknik distilasi uap atau air untuk mengekstraksi minyak dari kayu tersebut.
Gaharu
banyak diperdagangkan dengan harga jual yang sangat tinggi. Selain ditentukan
dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan oleh banyaknya
kandungan resin dalam
jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya maka harga gaharu
tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonym. SNI 01-5009.1-1999: Gaharu. Badan
Standar-disasi Nasional (BSN). 1999
Gun, et.al., 2004.
Eaglewood in Papua New Guinea. Tropical Rain Forest Project.
Working paper No. 51. Vietnam. Dalam Sofyan, A.dkk. 2010. Pengembangan Dan Peningkatan
Produktivitas Pohon Penghasil Gaharu
Sebagai Bahan Obat
Di Sumatera. Kementerian
Kehutanan Balai
Penelitian
Kehutanan Palembang. Palembang.
Iskandar.
2009. Pengembangan Hhbk Jenis Gaharu (Aquilaria
Malaccensis ) Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dinas Kehutanan Bangka
Belitung.
Diakses dari http//:
workshopHHBK09_BaBel. Pdf. Com// [10 Maret 2015].
Sumadiwangsa
dan Zulnely, 1999. Pengembangan Gaharu di Sumatera, Makalah Workshop
Pengembangan Teknologi Produksi Gaharu Berbasis pada Pemberdayaan Masyarakat di
Sekitar Hutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alarr:-
ITTO PO 425/06 Rev .1 (1). Bogar, 29 April 2009.
Sumarna,
2007. Stategi dan Teknik pemasaran Gaharu di Indonesia. Makalah Workshop
Pengembangan Teknologi Produksi Gaharu Berbasis pada Pemberdayaan Masyarakat di
Sekitar Hutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam -
ITTO PO 425/06 Rev.1 (1). Bogor, 29 April 2009.
Soehartono, Tonny; Gaharu: Kegunaan dan Pemanfaatan. Disampaikan pada Lokakarya Tanaman Gaharu di Mataram tanggal 4 – 5 September 2001
Soehartono, Tonny; Gaharu: Kegunaan dan Pemanfaatan. Disampaikan pada Lokakarya Tanaman Gaharu di Mataram tanggal 4 – 5 September 2001


Tidak ada komentar:
Posting Komentar